Baca Artikel

Seni Berkata

Seni Berkata "Tidak": Mengatur Prioritas Kegiataan di Luar Perkuliahan


Banyak mahasiswa merasa harus mengiyakan setiap ajakan—ikut kepanitiaan, nongkrong, mengisi acara, atau membantu teman—karena takut dianggap tidak ramah atau ketinggalan informasi. Padahal, setiap "ya" yang terlalu sering justru dapat menggerus waktu untuk belajar, istirahat, dan diri sendiri. Kemampuan berkata "tidak" secara asertif bukan tanda egois, melainkan keterampilan penting untuk menjaga fokus, kesehatan mental, dan performa akademik.

Penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang mampu menetapkan batas dan memprioritaskan tugas cenderung memiliki performa akademik yang lebih baik, sementara keterlibatan berlebihan dalam kegiatan di luar kelas berkorelasi dengan peningkatan burnout. Berkata "tidak" dengan cara yang tepat membantu mahasiswa menjaga hubungan sosial tanpa mengorbankan tujuan pribadi. 

Kenali Dampak Overcommitment

Terlalu banyak komitmen di luar perkuliahan—organisasi, kepanitiaan, kegiatan sosial, atau permintaan bantuan teman—dapat menyebabkan kelelahan, penurunan fokus, dan stres. Banyak mahasiswa tidak menyadari bahwa mereka sudah overcommitted hingga tugas menumpuk dan waktu tidur berkurang.

Beberapa tanda overcommitment:

  • Sering merasa lelah meski belum melakukan banyak hal.

  • Tugas kuliah mulai tertunda atau dikerjakan terburu-buru.

  • Sulit menolak ajakan meski jadwal sudah penuh.

  • Merasa bersalah ketika mengambil waktu untuk diri sendiri.

  • Kualitas tidur dan waktu makan mulai terganggu.


Studi kuantitatif menemukan korelasi positif antara keterlibatan berlebihan dalam kegiatan kokurikuler dan tingkat burnout pada mahasiswa. Mahasiswa yang mengalami burnout akibat keterlibatan berlebihan justru belajar untuk menetapkan batas dan berkata "tidak" ketika memang diperlukan. 

Pahami Bedanya Asertif, Pasif, dan Agresif

Berkata "tidak" tidak berarti kasar atau menolak semua hal. Ada tiga gaya komunikasi yang perlu dipahami:

  • Pasif: menuruti semua permintaan meski merasa terbebani, akhirnya menumpuk stres.

  • Agresif: menolak dengan cara yang menyakiti atau menutup ruang dialog.

  • Asertif: menolak dengan jelas, sopan, dan tetap menghargai orang lain.


Penelitian kualitatif terhadap mahasiswa menemukan bahwa mahasiswa berprestasi cenderung lebih efektif menggunakan asertivitas—bersikap terbuka, objektif, tegas dalam mengambil keputusan, dan tetap menghargai hak orang lain. Studi lain menunjukkan korelasi positif antara tingkat asertivitas dan performa akademik mahasiswa. 

Gunakan Rumus "Ya, Tapi" atau "Tidak, Karena"

Menolak tidak harus dengan kata "tidak" yang datar. Ada beberapa rumus komunikasi yang membantu menjaga hubungan tetap baik:

  • "Ya, tapi...": "Aku bisa bantu, tapi baru besok sore karena hari ini ada deadline tugas."

  • "Tidak, karena...": "Maaf, aku tidak bisa ikut kepanitiaan kali ini karena sedang fokus menyelesaikan skripsi."

  • "Tidak untuk sekarang": "Untuk event ini aku tidak bisa, tapi kalau ada kegiatan bulan depan mungkin bisa."

  • Alternatif: "Aku tidak bisa ikut rapat, tapi bisa kirim catatan atau bantu dari rumah."


Pendekatan ini menunjukkan bahwa Anda menghargai permintaan orang lain, tetapi tetap menjaga batas pribadi. Penelitian menemukan bahwa komunikasi asertif yang jelas dan terstruktur membantu mahasiswa mengelola konflik sosial tanpa mengorbankan tujuan akademik.  

Tetapkan Prioritas Sebelum Mengambil Komitmen

Sebelum mengiyakan ajakan atau tawaran kegiatan, luangkan waktu sejenak untuk menilai apakah hal itu sesuai dengan prioritas Anda saat ini.

Beberapa pertanyaan yang bisa diajukan:

  • Apakah kegiatan ini sejalan dengan tujuan jangka panjang saya?

  • Apakah saya masih punya waktu untuk tugas kuliah dan istirahat?

  • Apakah menolak akan menimbulkan masalah serius?

  • Apakah saya mengiyakan karena benar-benar ingin, atau karena takut mengecewakan?


Penelitian menunjukkan bahwa penetapan tujuan, prioritisasi, dan rutinitas terstruktur berpengaruh signifikan terhadap produktivitas akademik, sementara prokrastinasi dan distraksi digital menjadi hambatan utama. Mahasiswa yang mampu memprioritaskan tugas akademik di atas kegiatan santai cenderung lebih produktif. 

Latih Menolak Tanpa Rasa Bersalah

Banyak mahasiswa merasa bersalah setelah menolak ajakan, padahal menolak adalah hak setiap orang. Rasa bersalah yang berlebihan justru dapat membuat mahasiswa terus mengiyakan hal-hal yang tidak mereka inginkan.

Beberapa cara mengurangi rasa bersalah:

  • Ingat bahwa menolak satu hal berarti memberi ruang untuk hal yang lebih penting.

  • Sadari bahwa orang lain biasanya lebih memahami penolakan yang sopan daripada yang Anda bayangkan.

  • Fokus pada manfaat jangka panjang, bukan rasa tidak nyaman sesaat.

  • Latih secara bertahap, mulai dari menolak permintaan kecil.


Penelitian menemukan bahwa pelatihan asertivitas tidak hanya meningkatkan performa akademik, tetapi juga meningkatkan harga diri mahasiswa. Semakin sering melatih asertivitas, semakin mudah mahasiswa menetapkan batas tanpa merasa bersalah. 

Jaga Keseimbangan, Bukan Isolasi

Berkata "tidak" bukan berarti menutup diri dari semua kegiatan sosial. Mahasiswa tetap perlu menjaga hubungan dengan teman, keluarga, dan komunitas. Kuncinya adalah keseimbangan: pilih kegiatan yang benar-benar bernilai, dan tolak yang hanya menambah beban tanpa manfaat.

Penelitian menemukan bahwa mahasiswa yang mampu menyeimbangkan sosialisasi dengan tanggung jawab akademik memiliki tingkat kepuasan dan performa yang lebih baik. Dukungan sosial yang sehat justru menjadi pelindung terhadap burnout, selama tidak berubah menjadi kewajiban yang membebani. 

Sumber rujukan

  • Nova Southeastern University (2023). Assertiveness as a New Strategy for Physical Education Students to Maintain Academic Performance. 

  • Taylor University (n.d.). A Burning Issue: Students' Overinvolvement in Cocurricular Activities Contributing to Burnout. 

  • Asian Journal of Nursing Education and Research (2019). Relationship between Assertiveness and Academic Performance.

  • Invecom (2025). Assertive communication in higher education: A systematic literature review. 

  • ERIC (n.d.). Time Management and Academic Achievement. 

  • JAAFR (2026). Race Against Time: Factors Influencing Effective Time Management. rjwave

  • Anambra State Study (n.d.). Assertiveness training and its effects on self-esteem and academic performance. journals.ezenwaohaetorc

  • Plymouth University (n.d.). Assertive behaviour: not a one-size-fits-all solution.